Tampilkan postingan dengan label BEKAL PARA IBU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BEKAL PARA IBU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Januari 2014

Pendidikan agama sejak dini


http://rumaysho.com/wp-content/uploads/2013/12/anak_islam_2-415x260.jpg

Pendidikan agama sejak dini hendaklah sudah ada di rumah keluarga muslim. Didikan tersebut bukan menunggu dari pengajaran di sekolah atau di taman pembelajaran Al Qur’an (TPA). Namun sejak di rumah, orang tua sepatutnya sudah mendidik anak tentang akidah dan cara beribadah yang benar. Kalau memang orang tua tidak bisa mendidik demikian, hendaklah anak diarahkan ke pre-school atau sekolah yang Islami sehingga ia sudah punya bekal agama sejak kecil. Setiap orang tua tentu sangat menginginkan sekali anak penyejuk mata.

Senin, 21 Mei 2012

Ibu Yang Sebenarnya

Tahukah kamu siapa itu Imam Ahmad dan Imam Syafi’i? Mereka adalah dua ulama yang merupakan guru dan murid (Imam Syafi’i merupakan guru Imam Ahmad) Ya, mereka berdua adalah ulama besar yang namanya harum sepanjang sejarah. Mereka terkenal sebagai mujtahid cemerlang dan luar biasa, hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah madzhab yang dikenal dan diakui eksistensinya saat ini dalam dunia Islam, yaitu madzhab Hambali dan Syafii. Mereka pun menghasilkan banyak karya dalam bidang agama –terutama fiqh- menjadi kitab referensi bagi ulama lainnya, baik yang sezaman hingga saat ini. Diantaranya adalah kitab al-Musnad karangan Imam Ahmad bin Hanbal, kitab yang berisi lebih dari 6000 hadits. Atau mungkin kitab ar-Risalah dan al-Umm karya Imam Syafi’i yang menjadi banyak rujukan dalam bidang fiqh.

Rabu, 07 Maret 2012

JANGAN SALAH MENDIDIK (Untukmu Anak Sholeh)

Penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc

Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan yang sejalan dengan syariat Islam.
Banyak orang awam dan berkantong tebal salah dalam memilih lembaga pendidikan. Alih-alih mempertimbangkan kebersihan akidah dan keluhuran akhlak bagi anak-anaknya, mereka hanya berorientasi pada keberhasilan di dunia. Alhasil, mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah mahal dipakai sebagai alat pengangkat prestise orangtua, sekadar alat untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan anak di sekolah pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu berharap memiliki anak shalih.

Berikut beberapa contoh (14 contoh) kesalahan orang tua dalam memberikan pendidikan buat anak-anaknya:
1. Salah Tujuan

Senin, 27 Februari 2012

BAB 21 Tuhan, Dimanakah Fathimatuz Zahra Sekarang?


Dunia  masih  mengenangnya.  Airmata  masih  ada  yang  mengalir ketika   mengingat   kebesarannya. Ada   rasa   malu   kalau membandingkan dengan keadaan kita sekarang. Ada rasa haru kalau melihat kembali perjuangan-perjuangannya; bagaimana ia dengan penuh kasih-sayang mengusap darah suaminya seusai perang dan merawatnya penuh perhatian; bagaimana ia mengambil air sendiri dengan berjalan jauh sampai membekas di dadanya; dan bagaimana ia menginap di rumah Rasulullah sementara  ‘Ali menggantikan tempat tidur Nabi saat orang kafir Quraisy mengepung. Malam itu, Rasulullah meninggalkan Makkah dan bersembunyi di gua Tsaur. Sementara orang kafir mengancam nyawanya.

Senin, 23 Januari 2012

Pembinaan Aqidah Untuk Buah Hati



 Aqidah Islamiyah dengan enam pokok keimanan, yaitu beriman kepada Allah ‘azza wa jalla, para malaikatnya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, beriman kepada hari akhir dan beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik maupun buruk, mempunyai keunikan bahwa kesemuanya itu merupakan perkara yang ghaib.

Seseorang akan menghadapi kebingungan bagaimana ia mesti menyampaikannya kepada anak dan bagaimana pula anak bisa berinteraksi dengan itu semua ? bagaimana cara menjelasakan dan memaparkannya? Di hadapan pertanyaan ini atau pertanyaan sejenis lainnya, kedua orangtua bisa kelabakan dan mencari tahu bagaimana caranya. Akan tetapi melalui penelaahan terhadap cara 

Nabi shalallahu’alaihi wassalam dalam bergaul dengan anak-anak, kita temukan ada lima pilar mendasar di dalam menananmkan aqidah ini.

Jauhkan Anak dari Tathoyyur!

Penyusun: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi

DUK! Terdengar suara keras dari halaman. Ternyata si kecil Fida’ terjatuh keras. Lalu sang ibu pun tergopoh-gopoh berlari dari dalam. “Nah… nak… itu tandanya harus berhenti main. Ayo masuk rumah!” Lain lagi di rumah tetangga. Sang anak yang sudah berusia 11 tahun mendengar pembantu di dapur berkata, “Aduh… nasinya basah… siapa ya yang sakit di kampung?”
Wahai ibu… kasihanilah anakmu dan keluarga yang menjadi tanggung jawabmu di rumah. Sungguh dengan terbiasa melihat dan mendengar kejadian semacam itu, maka akan mengendap dalam benak mereka perbuatan-perbuatan yang tidak lain merupakan tathoyyur. Padahal tidaklah tathoyyur itu melainkan termasuk kesyirikan. Apakah kita hendak mengajarkan kepada anak kesayangan kita dengan kesyirikan yang merusak fitrah tauhid kepada Allah? Wal’iyyadzubillah.