Pendidikan agama sejak dini hendaklah sudah ada di rumah keluarga
muslim. Didikan tersebut bukan menunggu dari pengajaran di sekolah atau
di taman pembelajaran Al Qur’an (TPA). Namun sejak di rumah, orang tua
sepatutnya sudah mendidik anak tentang akidah dan cara beribadah yang
benar. Kalau memang orang tua tidak bisa mendidik demikian, hendaklah
anak diarahkan ke pre-school atau sekolah yang Islami sehingga ia sudah
punya bekal agama sejak kecil. Setiap orang tua tentu sangat
menginginkan sekali anak penyejuk mata.
Laman
- Kajian Ustadz Armen Halim Naro
- Kajian Islam
- Download Free MP3 Kajian Islam
- Download Serba Gratis
- Islamic Calender
- Kumpulan Ceramah Ramadhan Terlengkap oleh Berbagai Ustadz
- Kisah dan Karomah Para Sahabat Rasulullah
- Adab dan Akhlak Islam
- Hadits Arba'in An-Nawawi
- Kisah Teladan dan Sejarah Islam
- Biografi Ulama
- Beranda
- Hadits Shahih, Hasan, Dhaif, Dan Maudhu
- Doa dan Wirid Rasulullah
- Kumpulan Tausiyah
Tampilkan postingan dengan label BEKAL PARA IBU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BEKAL PARA IBU. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 04 Januari 2014
Senin, 21 Mei 2012
Ibu Yang Sebenarnya
Tahukah
kamu siapa itu Imam Ahmad dan Imam Syafi’i? Mereka adalah dua ulama
yang merupakan guru dan murid (Imam Syafi’i merupakan guru Imam Ahmad)
Ya, mereka berdua adalah ulama besar yang namanya harum sepanjang
sejarah. Mereka terkenal sebagai mujtahid cemerlang dan luar biasa,
hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah madzhab yang dikenal dan
diakui eksistensinya saat ini dalam dunia Islam, yaitu madzhab Hambali
dan Syafii. Mereka pun menghasilkan banyak karya dalam bidang agama
–terutama fiqh- menjadi kitab referensi bagi ulama lainnya, baik yang
sezaman hingga saat ini. Diantaranya adalah kitab al-Musnad karangan
Imam Ahmad bin Hanbal, kitab yang berisi lebih dari 6000 hadits. Atau
mungkin kitab ar-Risalah dan al-Umm karya Imam Syafi’i yang menjadi
banyak rujukan dalam bidang fiqh.
Rabu, 07 Maret 2012
JANGAN SALAH MENDIDIK (Untukmu Anak Sholeh)
Penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc
Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar
tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan
berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan
ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh
karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka
orangtua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan yang sejalan
dengan syariat Islam.
Banyak orang awam dan berkantong tebal salah dalam memilih lembaga
pendidikan. Alih-alih mempertimbangkan kebersihan akidah dan keluhuran
akhlak bagi anak-anaknya, mereka hanya berorientasi pada keberhasilan di
dunia. Alhasil, mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan
bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah
mahal dipakai sebagai alat pengangkat prestise orangtua, sekadar alat
untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan anak di sekolah
pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu berharap
memiliki anak shalih.
Berikut beberapa contoh (14 contoh) kesalahan orang tua dalam memberikan pendidikan buat anak-anaknya:
1. Salah Tujuan
Senin, 27 Februari 2012
BAB 21 Tuhan, Dimanakah Fathimatuz Zahra Sekarang?
Dunia masih
mengenangnya. Airmata masih
ada yang mengalir ketika mengingat
kebesarannya. Ada rasa
malu kalau membandingkan dengan
keadaan kita sekarang. Ada rasa haru kalau melihat
kembali perjuangan-perjuangannya; bagaimana ia dengan penuh kasih-sayang
mengusap darah suaminya seusai perang dan merawatnya penuh perhatian; bagaimana
ia mengambil air sendiri dengan berjalan jauh sampai membekas di dadanya; dan
bagaimana ia menginap di rumah Rasulullah sementara ‘Ali menggantikan tempat tidur Nabi saat
orang kafir Quraisy mengepung. Malam itu, Rasulullah meninggalkan Makkah dan
bersembunyi di gua Tsaur. Sementara orang kafir mengancam nyawanya.
Senin, 23 Januari 2012
Pembinaan Aqidah Untuk Buah Hati
Aqidah Islamiyah dengan enam pokok keimanan, yaitu beriman kepada Allah ‘azza wa jalla,
para malaikatnya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, beriman kepada hari
akhir dan beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik maupun buruk,
mempunyai keunikan bahwa kesemuanya itu merupakan perkara yang ghaib.
Seseorang akan menghadapi kebingungan bagaimana ia mesti
menyampaikannya kepada anak dan bagaimana pula anak bisa berinteraksi
dengan itu semua ? bagaimana cara menjelasakan dan memaparkannya? Di
hadapan pertanyaan ini atau pertanyaan sejenis lainnya, kedua orangtua
bisa kelabakan dan mencari tahu bagaimana caranya. Akan tetapi melalui
penelaahan terhadap cara
Nabi shalallahu’alaihi wassalam dalam bergaul dengan anak-anak, kita temukan ada lima pilar mendasar di dalam menananmkan aqidah ini.
Jauhkan Anak dari Tathoyyur!
Penyusun: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi
DUK! Terdengar suara keras dari halaman. Ternyata si kecil
Fida’ terjatuh keras. Lalu sang ibu pun tergopoh-gopoh berlari dari
dalam. “Nah… nak… itu tandanya harus berhenti main. Ayo masuk rumah!” Lain lagi di rumah tetangga. Sang anak yang sudah berusia 11 tahun mendengar pembantu di dapur berkata, “Aduh… nasinya basah… siapa ya yang sakit di kampung?”
Wahai ibu… kasihanilah anakmu dan keluarga
yang menjadi tanggung jawabmu di rumah. Sungguh dengan terbiasa
melihat dan mendengar kejadian semacam itu, maka akan mengendap dalam
benak mereka perbuatan-perbuatan yang tidak lain merupakan tathoyyur.
Padahal tidaklah tathoyyur itu melainkan termasuk kesyirikan. Apakah
kita hendak mengajarkan kepada anak kesayangan kita dengan kesyirikan
yang merusak fitrah tauhid kepada Allah? Wal’iyyadzubillah.
Langganan:
Postingan (Atom)