Laman
- Kajian Ustadz Armen Halim Naro
- Kajian Islam
- Download Free MP3 Kajian Islam
- Download Serba Gratis
- Islamic Calender
- Kumpulan Ceramah Ramadhan Terlengkap oleh Berbagai Ustadz
- Kisah dan Karomah Para Sahabat Rasulullah
- Adab dan Akhlak Islam
- Hadits Arba'in An-Nawawi
- Kisah Teladan dan Sejarah Islam
- Biografi Ulama
- Beranda
- Hadits Shahih, Hasan, Dhaif, Dan Maudhu
- Doa dan Wirid Rasulullah
- Kumpulan Tausiyah
Tampilkan postingan dengan label MEMBANTAH FEMINIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MEMBANTAH FEMINIS. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 Juli 2012
Rabu, 23 Mei 2012
Feminisme, Kebaikan atau Kejahiliyahan?
Tidak sedikit perempuan kita suka berkelit, menghindari peran dan
kewajiban dasar yang dianggapnya sebagai masalah yang melilit. Yang
gadis ingin selalu bebas dinamis, buntutnya malas untuk menjadi seorang
istri. Giliran jadi istripun tak berhenti bikin sensasi, phobi untuk
punya anak. Kalaupun terpaksa punya, cukup terpeleset sekali saja,
katanya. Pun tidak mau memberikan ASInya, padahal bagi anak itulah yang
paling baik dan enak.
Fenomena itu kini menyeruak di masyarakat bumi, tidak ketinggalan
yang disebut nusantara ini. Dalam kehidupan dunia yang semakin global,
perang tidak sekedar dengan rudal apalagi dengan pedang. Lewat media
massa penjajahan tidak lagi kasat mata. Penjajah yang dijajah bisa satu
asa dan satu rasa, sama-sama bangga. Penjajahan budaya, mengalir bersama
kucuran dana. Feminisme, salah satu namanya.
Feminisme dijual dengan kemasan perjuangan perempuan, pembebasan
wanita. Muncullah jargon keseteraan jender. Perempuan dan laki-laki
tidak beda sama sekali, kecuali pada fungsi reproduksi. Dianggap wajar
bila menolak menggunakan hak reproduksinya. Bayangkan jika dianut semua
wanita negeri ini, bisa-bisa tingkat kelahiran bayi di negara ini bisa
dihitung dengan jari.
Wanita Muslimah versus Wanita Barat
Islam memposisikan wanita dengan begitu mulia, karena generasi
gemilang akan lahir dari rahimnya. Dalam masa kebudayaan jahiliyah
sebelum datangnya Islam, wanita dianggap sangat rendah dan hina bahkan
tidak sedikit ketika lahir anak perempuan dikubur hidup-hidup. Mereka
memandang wanita dengan sebelah mata, bahkan dianggap hina dan tidak
berharga. Setelah datangnya Islam, terbukti wanita dapat menghirup udara
bebas dan diberikan tugas kepadanya dalam membangun sebuah masyarakat
yang berbudaya dan beradab.
Maka kita tidak heran bahwa dalam Islam tidak ada yang namanya
diskriminasi terhadap wanita, tidak ada tuntutan emansipasi wanita dan
feminisme. Karena sejak pertama kali di wahyukannya agama Islam kemuka
bumi, Islam selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum wanita.
Dan syariat Islam yang seperti ini tidak akan luntur di makan zaman, tak
akan pernah berevolusi maupun revolusi.
Aku lepaskan bikini untuk Niqab, akhirnya aku bebas!
(Arrahmah.com)
- Seorang wanita Barat, artis, aktivis feminis liberal, model, yang
hidup layaknya seperti para wanita Barat dalam gaya hidup dan cara
berpakaian seperti menggunakan bikini, kemudian masuk Islam setelah
menyadari bahwa Islam sangat menjaga harga diri dan hak-hak perempuan,
dan ia kemudian memakai Niqab yang ia yakini sebagai simbol kebebasan
wanita, ia menulis kisahnya sebagai berikut:
Aku seorang wanita Amerika yang lahir di tengah jantung Amerika. Aku
tumbuh seperti gadis lainnya (seperti biasanya wanita Barat –red),
terpaku dengan hidup glamor di kota besar. Akhirnya aku pindah ke
Flourida dan kemudian ke Pantai selatan Miami, pusatnya bagi yang
mencari kehidupan glamor. Tentu saja aku melakukan apa yang rata-rata
para wanita Barat lakukan.
Aku fokus pada penampilanku dan mendasarkan diriku “berharga” pada
berapa banyak perhatian yang aku dapat dari orang lain. Saya bekerja
diluar batas keagamaan dan menjadi personal trainer, memperoleh sebuah
rumah tepi pantai kelas atas, menjadi seorang “penunjuk” pantai-bioskop
dan dapat mrncapai gaya hidup (ala Barat –red).
Senin, 16 April 2012
Wanita Berjilbab VS Wanita Pesolek
Buku Karya : Ibrahim bin Fathi bin Abd Al-Muqtadir
Judul Asli : Munazharah Mubhijjah Baina Muhajjabah wa Mutabarrijah
Penerbit: Dar Al-Aqidah
Penerjemah : Khasan Aedi,ss.
PERSEMBAHAN
·
Untuk orang yang mengira pohon besar Islam telah
layu dan minuman lezatnya telah mengering , dan mengira bahwa jilbab
ketinggalan zaman...
Jangan siapkan kain kafanku, hai pencelaku
Sungguh aku terikat janji dan konvensi dengan fajar
·
Untuk cucu-cucu ideologis Asma’ dalam mengemban
kesopanan, kesucian, dan kemurnian.
·
Untuk wanita-wanita suci, yang murni, bertakwa
dan menjaga diri
·
Untuk wanita-wanita yang mengikuti jejak Nasibah
yang antusias menutup diri seantusias Ummu Salamah
·
Untuk setiap wanita yang takut kepada Tuhannya,
lantas menutup tubuhnya dan menjaga kehormatannya.
·
Untuk wanita-wanita yang terpesona dengan
hiasan-hiasan palsu dari Barat dan Timur
·
Untuk wanita-wanita yang silau dengan peradaban
orang-orang terbelakang
·
Untuk setiap wanita yang membangkang kepada
Tuhannya dan merobek tabir penutup ruang khususnya, lalu keluar dari rumah
dengan berpakaian namun telanjang, sembari berjalan melenggak-lenggokkan kaki
dan tubuhnya dengan menebar pesona fitnah.
·
Kepada setiap wanita yang bersemangat menjaga
kehormatan umat dan harkat wanita-wanitanya, ingin kami katakan :
Kujaga kehormatanku dengan hartaku
Dan tak akan ku mengotorinya
Sebab tidak ada keberkahan dari Allah setelah kehormatan
Untuk mereka semua kami lontarkan teriakan peringatan dan
kami persembahkan buku ini. Semoga Allah membukakan jiwa mereka untuk menerima
karya ini Aamiin.
Abu Ismail
Label:
AKHWAT ZONE,
MEMBANTAH FEMINIS
Senin, 12 Maret 2012
Menyoal Kiprah Muslimah
::: Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Peribahasa ini sangat tepat untuk menggambarkan keadaan kaum wanita di era kini. Allahul Musta’an.
“Menjadi
ibu rumah tangga atau bergelutnya wanita dalam lingkup domestik/rumah
merupakan kemunduran(?)”, adalah sekelumit citra yang kuat tertanam
sebagai buah dari propaganda emansipasi.
Dengan ini, para wanita pun terpacu untuk mengejar karir meski hanya
untuk meraih simbol status. Padahal tanpa disadari, banyak hal yang
mereka pertaruhkan di sini.
Label:
AKHWAT ZONE,
MEMBANTAH FEMINIS
Sabtu, 10 Maret 2012
Penghargaan terhadap Wanita dalam Islam
Hadits-hadits
Nabi shallallahu alaihi wasallam berbicara tentang wanita dengan pujian
dan penghargaan. Beliau shallallahu alaihi wasallam berkata:
إنَّ الدُّنْيَا كُلُّهَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia dan seluruh isinya adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR Ahmad dan Muslim)
Label:
AKHWAT ZONE,
MEMBANTAH FEMINIS
Saudariku, Jilbab Ketatmu Itu....
Ketat, tansparan, dan membentuk
tubuh, itulah ciri-ciri jilbab sebagian wanita masa kini. Tampil cantik
dan trendi dengan jilbab menjadi moto sebagian muslimah zaman sekarang.
Ya.. cantik.. dengan pakaian tipis dan ketat yang menggoda,
pernak-pernik perhiasan yang menggelantung mulai dari kepala sampai pin
besar di dada, sapuan make up di wajah, sepatu hak tinggi runcing dengan
wangi parfum yang menggelitik sambil berlenggok laksana bandul jam.…
lengkaplah sudah wanita menjadikan dirinya layaknya etalase.
Label:
AKHWAT ZONE,
MEMBANTAH FEMINIS,
UNTAIAN NASEHAT
Ya Ukhti, Tempat Kita Bukan di Jalan
Bismillah, semoga Allah memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua saudariku.
Tulisan ini wujud sayang dan rasa prihatin kepada saudari muslimah, terinspirasi dari berbagai pengamatan, semoga tulisan ini bermanfaat. Aamiin.
Sejak runtuhnya kekuasaan orde baru di Indonesia yang terwujud setelah serangkaian demonstrasi besar-besaran, kegiatan itu (baca: demonstrasi) seolah menjadi budaya yang rutin dilaksanakan. Seolah ada pembenaran bahwa suara rakyat yang (jika mengikuti system demokrasi) seharusnya disalurkan melalui wakil-wakilnya di parlemen – terlepas apakah wakil tersebut benar-benar merepresentasikan masyarakat yang diwakilinya atau tidak – pun juga dapat diutarakan langsung dengan berkumpul dijalanan, meneriakkan yell-yell atau slogan tertentu, dengan spanduk dan gambar-gambar, ataupun kegiatan lain yang mengundang perhatian. Tentu saja demonstrasi yang dimaksudkan disini bukan berupa unjuk kebolehan atau kemampuan dalam bidang tertentu, melainkan sebuah unjuk kekuatan untuk mempengaruhi opini bahkan menekan pihak lain, mengajukan protes dan sejenisnya, meskipun kemudian disamarkan dengan menamakannya sebagai “aksi damai” yang tidak jarang berujung kericuhan.
Tulisan ini wujud sayang dan rasa prihatin kepada saudari muslimah, terinspirasi dari berbagai pengamatan, semoga tulisan ini bermanfaat. Aamiin.
Sejak runtuhnya kekuasaan orde baru di Indonesia yang terwujud setelah serangkaian demonstrasi besar-besaran, kegiatan itu (baca: demonstrasi) seolah menjadi budaya yang rutin dilaksanakan. Seolah ada pembenaran bahwa suara rakyat yang (jika mengikuti system demokrasi) seharusnya disalurkan melalui wakil-wakilnya di parlemen – terlepas apakah wakil tersebut benar-benar merepresentasikan masyarakat yang diwakilinya atau tidak – pun juga dapat diutarakan langsung dengan berkumpul dijalanan, meneriakkan yell-yell atau slogan tertentu, dengan spanduk dan gambar-gambar, ataupun kegiatan lain yang mengundang perhatian. Tentu saja demonstrasi yang dimaksudkan disini bukan berupa unjuk kebolehan atau kemampuan dalam bidang tertentu, melainkan sebuah unjuk kekuatan untuk mempengaruhi opini bahkan menekan pihak lain, mengajukan protes dan sejenisnya, meskipun kemudian disamarkan dengan menamakannya sebagai “aksi damai” yang tidak jarang berujung kericuhan.
Label:
AKHWAT ZONE,
MEMBANTAH FEMINIS,
UNTAIAN NASEHAT
Jumat, 20 Januari 2012
Kasih Sayang Islâm kepada Kaum Perempuan
Penulis: Al-Ustâdz Abû ‘Abdillâh Muhammad Yahyâ
Dahulu, kaum jahiliyah sangat merendahkan dan
menghina kaum perempuan. Diantara perbuatan mereka adalah mengubur anak
perempuan hidup-hidup. Allah telah mencela mereka karena perbuatan
biadab tersebut, Allah berfirman:
يَتَوَارَى مِن الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ (النحل: ٥٩)
Artinya: Ia menyembunyikan dirinya dari orang
banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah
dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan
menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah
buruknya apa yang mereka tetapkan itu. An-Nahl: 59.
Label:
AKHWAT ZONE,
MEMBANTAH FEMINIS
Rabu, 18 Januari 2012
Islam Mengajarkan Keadilan, Bukan Persamaan dalam Segala Hal
Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا
فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ
أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا
حَفِظَ اللهُ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum
wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki)
atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah
menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang
shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa`: 34)
Penjelasan Mufradat Ayat
قَوَّامُونَ
Qawwamun adalah jamak dari qawwam, yang semakna dengan kata qayyim. Artinya adalah pemimpin, pembesar, sebagai hakim dan pendidik, yang bertanggung jawab atas pengaturan sesuatu. Namun kata qawwam memiliki arti yang lebih dari qayyim. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Baghawi)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam menjelaskan ayat ini mengatakan: “Qawwam artinya pemimpin, di mana wajib atas seorang istri taat kepadanya sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan baginya untuk taat kepada suami, serta menaatinya dengan berbuat baik kepada keluarganya dan menjaga hartanya.” (Tafsir Ath-Thabari)
Emansipasi atau Deislamisasi?
Penulis: Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin
Emansipasi sejatinya hanyalah salah satu jalan yang
digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk mempreteli bahkan mengubur
syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al-Qur`an dan hadits ditelikung,
dipahami sepotong-sepotong, untuk kemudian ditafsirkan secara sembrono.
Syariat bahkan dianggap sebagai ajaran lama yang perlu direkonstruksi
atau dikontekstualisasikan. “Ahli” tafsir dan hadits yang menjadi
rujukan, siapa lagi kalau bukan kalangan akademisi Barat.
Kata emansipasi bukan lagi menjadi kata yang asing di
telinga masyarakat. Kata ini menjadi lekat seiring era keterbukaan di
setiap lini kehidupan. Slogan emansipasi seakan menjadi taji bagi setiap
wanita. Ketertindasan, keterkungkungan, keterbelakangan dan ketiadaan
harkat menjadi belenggu kaum wanita. Kehidupan wanita seakan terpasung
di tengah eksploitasi kaum Adam terhadapnya. Sebagian wanita pun menjadi
gamang menatap rona kehidupan. Hilang keyakinan diri untuk menapaki
laju zaman.
Meninjau Ulang Emansipasi: Ada Apa dengan Emansipasi?
Penulis: Redaksi Asy-Syariah
Masalah kewanitaan dalam Islam menjadi
tema yang tak habis-habisnya disoroti oleh aktivis perempuan dan
kalangan feminis. Dari soal kepemimpinan, “diskriminasi” peran,
partisipasi yang “rendah” karena posisinya yang dianggap “subordinat”,
hingga poligami. Semuanya bermuara pada sebuah gugatan bahwa wanita
harus mempunyai hak yang sama alias sejajar dengan pria. Seolah-olah
dalam agama ini terjadi pembedaan (yang membabi buta) antara pria dan
wanita.
Adalah sebuah kenyataan, wanita
berbeda dengan pria dalam banyak hal. Dari perbedaan kondisi fisik, sisi
emosional yang menonjol, sifat-sifat bawaan, dan sebagainya.
Makanya syariat pun memayungi perbedaan ini dengan adanya fiqh yang
khusus diperuntukkan bagi laki-laki dan fiqh yang dikhususkan bagi
perempuan.
Secara fisiologis, misalnya, wanita
mengalami haid hingga berkonsekuensi berbeda pada hukum-hukum yang
dibebankan atasnya. Sementara dari kejiwaan, pria umumnya lebih
mengedepankan akalnya sehingga lebih bijak, sementara wanita cenderung
mengedepankan emosinya. Namun dengan emosi yang menonjol itu, wanita
patut menjadi ibu yang mana punya ikatan yang kuat dengan anak.
Sebaliknya, dengan kelebihannya, laki-laki pantas menjadi pemimpin
sekaligus menjadi tulang punggung dalam rumah tangganya.
Kamis, 01 Desember 2011
MAU JILBABIN HATI DULU!
Si B : “Ah…Suka2 saya. Walaupun tidak berjilbab, yang penting kan hatinya!!”
Si A : “Berarti kalo ada orang yang gak mau shalat, gak mau puasa,
gak mau zakat, gak mau sedekah, gak mau berbakti kpd orgtua, dll, boleh
donk??? Kan yg penting hatinya???
Si B : “Beda itu!…Byk wanita yg gak berjilbab tapi hatinya baik, dan byk juga wanita yg berjilbab tapi hatinya buruk!
Si A : “Itu gak beda, karena sama2 perintah Allah. Jilbab itu
aplikasi dari ketaatan kita dalam beragama. Bagaimana bisa dikatakan
hatinya baik jika dia durhaka kpd Allah? Seorg anak yang durhaka kepada
orgtua saja dikatakan hatinya buruk, apalagi yang durhaka kepada Allah?
Bukankah banyak juga wanita yang berjilbab tapi hatinya baik, dan banyak
juga wanita yang gak berjilbab tapi hatinya buruk??”
Si B : “Ya udah…itu terserah saya! Saya mau menjilbabkan hati dulu!!!”
Si A : “Emang hati bisa dijilbabin? Beli dimana jilbabnya nanti? Jadi
kalo ada laki2 yang disuruh memelihara jenggot, bisa2 dia nanti bilang:
‘Saya mau jenggotin hati dulu!’Hehehehe…”
Si B : (kabuurrr….)
Si A : ^_-
Oleh Abu Fahd Negara Tauhid
Langganan:
Postingan (Atom)






ada yang saya ingin tanyakan, Bagaimana dengan ajang kontes muslimah beauty 2011. Dengan persyaratan : wanita Berjilbab usia 18-24 tahun?Berprestasi, Bisa mengaji dan Berkepribadian menarik? Ikuti pemilihan Muslimah Beauty & Jadilah Duta Fesyen Muslim Indonesia..