Di tengah bertaburnya lima puluh bintang hidayah yang bersinar
terang (yakni para sahabat), maka terkumpullah cahaya terang pada
dirinya. Cahaya di hatinya, cahaya di lidahnya, dan cahaya di depan
matanya.
Di bawah bimbingan lima puluh ulama alumnus madrasah Muhammad maka
Thawus seakan menjelma menjadi duplikat bagi para sahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kemantapan iman, kejujuran
kata-kata, kezuhudan dan terhadap dunia dan keberanian dalam menyerukan
kalimat yang benar kendati harus ditebus dengan harga yang mahal.
Madrasah Muhammad (pengikut Muhammad) mengajarkan kepadanya bahwa
agama adalah nasihat. Nasihat bagi Allah, kitab-Nya, rasul-Nya,
pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin.
Fakta menjadi bukti baginya bahwa kebaikan secara total dapat
terwujud bila dimulai dari penguasa. Bila baik pemimpinnya baik pula
umatnya. Bila rusak pemimpinnya, rusak pula rakyatnya.













